Sabtu, Oktober 15

Tuhan adalah sang Novelis





Tuhan, adalah Sang Novelis

Saya selalu membayangkan bahwa Tuhan adalah seorang novelis. Ketika mula Ia menciptakan semesta, Ia tak pernah benarbenar menyelesaikannya, layaknya sebuah novel yg hanya diisi dengan bab bab awal, dan meninggalkan kertas kosong pada bagian inti cerita. Lembarlembar kosong.

Sebagaimana bab bab putih tersebut, begitu pula dunia. Ia, Tuhan membiarkan manusia, sang pembaca, untuk mengisi bab bab kosong tersebut, membuat narasi kehidupan mereka sendiri. Dengan senyum atau luka, dengan dendam atau suka cita bersama, dengan Cinta dan kesombongan.

Untuk mengerti akhir novel ini, Tuhan, sang Novelis menyediakan waktunya untuk berbincang pada senja kala, bagi sesiapapun yg ingin datang dan mengetahui bab penutup dari novel tersebut. Di antaranya, ada beberapa orangorang, pembacapembaca khusus diundang. Namun, beberapa pembaca lainnya larut dalam cerita yg Ia buat sendiri, menganggap bahwa narasi yg Ia buatlah yg paling benar dan elok, Ia seolah, dalam imajinya, menjadi  sang Novelis, menjadi Tuhan, bagi jalan cerita, serta dirinya sendiri.

Dan ketika akhir dari cerita, penutup dari ségala bab dibacakan oleh sang Novelis, semua pembaca tersentak, karena penutup novel tersebut menuturkan bahwa, novel yg sedang, sebenarnya Ia, Tuhan, sang Novelis tersebut buat adalah bukan tentang novel yg coba di Isi, dinarasikan, oleh masing masing pembaca, manusia, melainkan tentang usaha sang Novelis untuk mengajak, mengundang, para pembaca, untuk berbincang di setiap senja kala, bertukar kasih, kopi, serta teh dan kudapan lainnya. Sebuah pesan untuk datang mendekat, diantara kehangatan, gelap dan terang dunia. Sekian.

Jumat, September 2

Lagu yang Mula, Cinta yang Awal, Muhammad!

Aku lah yg Awal
hidup semenjak mula dan selamalamanya!
Akulah yg kali pertama menuliskan sebuah lagu
padanya Kuletakkan kata dan nada secara bersamasama
oh, Akulah musik
dan Akulah pencipta liris

Kutuliskan lagu, sebuah lagu cinta yg syaq!
Lagu yg dinyanyikan semesta
Lagu yg ia gunakan sebagai irama lakunya
Sebuah lagu yg digubah seorang bayi menjadi tangis ketika ia lahir

Seluruh nafas hidupKu Kusematkan dalam dirimu
Begitulah caraKu hadir melalui ruhmu
Dan ketika Aku melihat dunia melalui kedua matamu
Segera Aku mewujud

Kutuliskan lagu sebagai Cinta yg mula
Irama musik yg membuat semesta menari
Musik yg menggetarkan jiwa
Musik yg menggerakkan bebatuan
Hingga kau pun turut dalam tarian

Musik Kupanggul di dalam darahmu
sehingga jantungmu berdetak
ia mengisi penuh hatimu
tempat yg tepat untuk memulai segala
dariKu - untukmu
darimu - untukKu
begitulah simfoni alam bernama;
Cinta

digubah dari lagu Barry Manilow "I Wrote the Song"
Awal September 2016

Jumat, Juni 3

Mulih

Mulih
Mulih, kita bisa saja melangkahkan kaki ribuan hasta terjauh, atau mejelajah dengan pandangan ratusan ribu tahun kedepan, tapi kita selalu tau dimana hati kita terus dan selalu tertambat.




Berton, menghabiskan hidupnya di ibukota yg baginya begitu keji. Setiap pagi Ia melantunkan sumpah serapahnya di kereta cepat yg dulu membawanya ke sekolah, hingga ke tempat nya bekerja sekarang. Di kantor nya, sebuah amarah kekesalan kembali meledak, pekerjaan-pekerjaan yang dirasa berat dan menekan menjadi pemicunya. Bahkan saat jam istirahat kantorpun Ia kembali melantunkan keluh kesal nya karena jalanan ibukota begitu macet dan setibanya di tempat Makan, rasa masakannya tak seperti yg Ia bayangkan, sehingga marah pun menjadi pelampiasan hasratnya. Hingga saat pulang pun tak tertinggal Ia kembali melantunkan amarah dan kekesalan karena kondisi Transportasi dan kemacetan ibukota.

Sedikit rangkaian cerita diatas mungkin dapat kita pahami ketika kita sakit, hingga lidah kita menjadi tak seperti biasa nya dalam mencecap dan merasakan apa yg biasa menjadi santapan kita. Ségala makanan serta minuman yg biasa enak dan nikmat mengisi mulut hingga ke perut kita berubah menjadi hal yg sama sekali tidak enak sampaisampai kita tak ingin melanjutkan sajian tersebut.

Hal yang menyambungka cerita dan perumpamaan diatas adalah, ketika kita sakit, ségala nya berubah tak enak. Ketika dunia begitu memuakkan dan semuanya menjadi serba Salah, bisa jadi bukan dunia yg telah Salah dan berubah, namun ada sesuatu yg sakit di dalam dirimu, barang kali jiwamu telah lama kau tinggalkan terkurung hingga dirimu sakit.. Tengoklah ia, ajak ia berkelana ke penjuru kehidupan, supaya dapat ia tunjukan dimana ada jalan jalan dipenuhi bunga dan wewangian..

Kamis, Oktober 1

Nafas dan Kehidupan


aku terbalut lamunan, dug.. dug.. dug.. aku mendengar detak jantungku.
.....aku merasakan nafas mendekap di dadaku
..saat dadaku mengembang aku merasakan aliran udara mengisi tiap ceruk dalam paru-paruku; mekar!
..kemudian saat nafas ini begitu menghimpit, aku kembali menyadari bahwa udara dalam dadaku merangkak keluar..

lamunan kembali mengunjungiku..

seketika aku merasakan bahwa nafas telah mengajarkanku tentang rahasia kehidupan,,
banyak orang tua dahulu mengatakan bahwa hakikat hidup itu nafas, namun sekarang nafas mengajariku lebih dalam ikhwalnya..
segala yang terkembang dan mekar layaknya nafas, itu adalah Cinta..
dengan tangan-tangannya yang ghaib, ia mengembangkan nafas, ia menggiring ombak-ombak, ia pula yang memekarkan pagi..
Cinta, adalah ikhwal memberikan segala daya, segala kebahagiaan, segala panasnya yang menghidupkan..
Cinta adalah ikhwal memberi.. bukan menerima.. menjadi pelayan, bukan menjadi Tuan..

kemudian saat nafas begitu menghimpit dadaku, sesak mendekapku sedemikian erat!
ia berkata padaku, bukankah ini Rindu yang biasa kau rasakan?
mendekap menghimpit dan membuat sesak relung-relung jiwamu??

aku terdiam..

nafas sekali lagi memberiku pengetahuan ikhwalnya..

segala yang menghimpit, segala yang menyesakkan, segala yang mohon diri, segala yang dingin: adalah ikhwal kerinduan
nafas yang menyesak, ombak yang pamit dari hadirat pantai, malam yang dingin.. semua menceritakan ikhwal kerinduan..

nafas, hari, samudra.. itu hanya sebahagian yang dapat aku ceritakan tentang Cinta dan Rindu..

Cinta dan Rindu adalah pilar-pilar kasat yang menopang langit-langit.. yang menyangga tulang-belulang..
yang membangun semesta.. yang membangun aku kau kita.. segala..

Rabu, Februari 5

Kebahagiaan


Hermann Hesse

Nobel Award of Literature 1946



Kebahagiaan




Selama engkau mengejar kebahagiaan,

Engkau belum matang untuk berbahagia,

Biarpun milikmu sudah segala kesayangan.



Selama engkau ngeluh karena ada yang hilang

Dan punya tujuan serta tiada tenang,

Kau belum tahu apa arti kedamaian.



Baru setelah engkau lepaskan segala keinginan,

Tak kenal lagi hasrat dan tujuan,

Tak lagi nyebut nama kebahagiaan,


Maka banjir segala kejadian

Tak lagi nyentuh hatimu, dan jiwamu tenang.





(Terj. Berthold Damshauser & Ramadhan K.H.)